Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Helping a Child Through Grief and Trauma

image


3 tips yang bisa dilakukan untuk membantu anak yang mengalami trauma

Kita tahu bahwa masa kanak-kanak adalah fondasi dari pembentukan otak, kepribadian, serta aspek-aspek lain dalam kehidupan dewasa. Bila anak memiliki trauma atau grief (rasa duka) yang belum sembuh dan tidak ditangani, maka childhood trauma akan memengaruhi fondasi perkembangan anak. Kita tahu bahwa fondasi yang tidak benar akan mengakibatkan bangunan yang rapuh. Analogi yang sama dapat diibaratkan dengan unhealed trauma pada anak.

 

Definisi dan Penyebab Childhood Trauma

Tapi sebenarnya, apa itu childhood trauma? Menurut Dr. Mariana Foo, selaku Doctor of Philosophy in Clinical Psychology dan Founder dari Perhati Counseling & Care Center, childhood trauma adalah “peristiwa atau serangkaian peristiwa yang secara emosional mengancam jiwa di masa kecil. Anak menjadi takut dan terancam perkembangan jangka panjangnya. Childhood trauma memengaruhi berbagai aspek seorang anak, mulai dari fisik, sosial, mental, spiritual, hingga emosional.”
 
Lebih lanjut, Dr. Foo menjelaskan bahwa ada berbagai penyebab childhood trauma, di antaranya:
 
Physical abuse atau kekerasan fisik terhadap anak
 
Anak menyaksikan kekerasan di dalam rumah tangga (KDRT)
 
Sexual abuse/molestation atau kekerasan dan penganiayaan seksual
 
Neglect atau ditelantarkan
 
Tumbuh dengan orang tua yang kecanduan atau memiliki permasalahan kesehatan mental
 
Grief atau duka akibat perceraian, kematian dalam keluarga, dsb
 
Perang, terorisme, atau bencana alam

 

Gejala Childhood Trauma

Mungkin Anda sebagai orang tua atau orang dewasa merasa curiga bahwa anak memiliki trauma. Apa saja yang perlu diperhatikan? Berikut adalah gejala anak (dan juga orang dewasa) yang memiliki trauma:
 
Adanya distorsi cognition (proses otak manusia mengumpulkan pengetahuan dan pengertian. Cognition mencakup proses berpikir, menghafalkan, menilai, logika, problem-solving, decision-making, dst). Gangguan cognition dapat muncul dengan berbagai gejala seperti sulit konsentrasi atau teringat terus akan peristiwa trauma.
 
Gangguan emosional, seperti takut terus-menerus, cemas, mudah tersinggung atau mudah marah.
 
Gejala fisik: mudah sakit, otot tegang, mudah lelah, dan/atau sulit tidur.
 
Perubahan perilaku: menarik diri dari lingkungan sekitar dan kehilangan selera makan.
 
Bila seseorang menunjukkan gejala-gejala di atas, apalagi sudah mengganggu perilaku, maka penting untuk memberi korban trauma bantuan profesional.
 
Selain gejala-gejala yang dijabarkan di atas, Dr. Foo mencatat bahwa anak yang tidak bisa atau mengalami kesulitan bermain biasanya memiliki suatu masalah di baliknya, kadang karena trauma. Tidak selalu, tetapi ada kemungkinan. Jadi perhatikan bila anak tidak bisa rileks dan menikmati waktu bermain.

 

Apa yang Harus Dilakukan Selanjutnya?

Bila Anda semakin yakin bahwa anak memiliki unhealed trauma, apa yang harus dilakukan?
 
Ada 2 bagian yang perlu diperhatikan. Pertama, orang tua atau orang dewasa terdekat memiliki andil membantu anak. Kedua, untuk penanganan trauma yang berat atau severe trauma, jangan ragu untuk mengontak bantuan profesional. Bisa dalam bentuk play therapy, CBT therapy, sandplay therapy, atau pendekatan psikologis lainnya. Berbagai pendekatan psikologis dapat efektif menangani trauma asal sesuai dengan konteks.
 
 

I. Bagaimana Orangtua bisa membantu trauma anak?

 
Berikut adalah 3 tips dari Dr. Foo:
1. Jangan panik dan jangan marah. Menjadi emosional, terutama bila membayangkan hal buruk terjadi pada anak, adalah normal. Tetapi jangan tunjukkan ke anak karena tidak membantu situasi sama sekali. Anak sudah merasa takut yang hebat karena pelaku yang menyebabkan grief atau trauma. Bila anak juga takut terhadap reaksi orang tua, anak tidak akan mengekspresikan pengalaman mereka. Anak akan menutup diri.
 
2. Anak harus yakin bahwa anak dapat mempercayai orang tua dengan traumanya. Tanpa adanya kepercayaan, respons anak adalah fight or flight or freeze. Artinya, anak akan membantah, menghindari permasalahan, atau tidak bergeming. Prioritas Anda adalah mendengarkan.
 
3. Bila Anda sudah tahu dengan jelas bahwa anak memiliki grief atau trauma, pergilah ke seorang profesional. Jangan menunggu. “Trauma bersifat seperti energi,” kata Dr. Foo. “Trauma tidak hilang, hanya berubah menjadi hal lain.” Misalnya, anak yang mengalami trauma di usia 5 tahun dan tidak ditangani dapat menunjukkan gangguan yang selama ini dipendamnya pada usia 17.

 

II. Catatan tentang Bantuan Profesional

Saat ini, stigma terhadap permasalahan kesehatan mental dan bantuan psikoterapi tidak separah generasi-generasi sebelumnya. Bahkan 10 tahun lalu, masyarakat tidak seterbuka ini tentang topik mental health.

Tetapi bukan berarti kita tidak merasa emosional (seperti khawatir atau curiga) bila tidak memiliki pengalaman dengan psikolog, terapis, atau psikiater. Dan juga, tidakkah seiring berjalannya waktu, luka trauma dapat sembuh? 
 
Penting untuk mengetahui bahwa waktu saja tidak cukup untuk menyembuhkan trauma. Sistem memori yang dimiliki manusia tidak begitu saja menghapus ingatan, terutama ingatan yang kuat dan menyakitkan seperti pengalaman trauma. Bila tidak ditangani orang yang berpengalaman di bidang psikoterapi, trauma dapat bertransformasi menjadi hal lain di masa depan. Contohnya memengaruhi emosi atau kepribadian secara jangka panjang.
 
Seorang profesional akan membantu anak memproses ulang pengalamannya. Walaupun trauma tidak hilang dan berubah seperti energi, otak manusia bersifat fleksibel. Permasalahan dapat dibantu dengan coping mechanism yang positif agar otak mempelajari pola-pola yang baik untuk menghadapi trauma. Jadi walaupun pengalaman atau ingatan trauma selalu ada, anak memiliki sarana untuk menghadapinya dengan positif.
 
Proses di atas ini sebaiknya ditangani oleh profesional yang ahli atau berpengalaman di bidangnya. Pada dasarnya, tujuan terapi adalah memproses emosi yang kuat dan seorang profesional sudah terlatih membantu kliennya dalam proses tersebut.
 
Bila Anda orang dewasa yang kesulitan menghadapi grief atau trauma, jangan ragu atau malu mencari bantuan profesional. Kesehatan mental yang lebih stabil akan membantu tak hanya Anda, tetapi orang-orang di sekitar Anda termasuk anak-anak.
 
 

Studi Kasus: Perceraian

Mungkin anak memiliki trauma menyaksikan orang tua bercerai. Umumnya, perceraian orang tua menyebabkan separation anxiety dan rasa kehilangan akan figur penting bagi anak. Anak merasakan grief atau trauma sebab ia merasakan kehilangan yang permanen, bahwa dunia yang selama ini ia tahu berubah dan dunianya tidak lagi stabil. 
Apa yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu?
 
Selesaikan masalah di akarnya. Biasanya perceraian memengaruhi emosi dan/atau hubungan anak dengan orang tua. Maka orang tua dapat membantu anak membangun kembali hubungan yang positif dengan orang tua.
Orang tua dapat secara halus membimbing anak tentang proses perceraian dan seperti apa kehidupan rumah tangga ke depannya. Tekankan bahwa anak tidak akan kehilangan orang tuanya. Hubungan akan berubah, tapi rasa sayang orang tua pada anak tetap sama. Dunia tidak hancur, hanya berubah.
 
Bagaimana bila proses perceraian sengit? Situasi ini memang kurang ideal, tapi orang tua harus memprioritaskan kesehatan mental anak. Penting untuk meminimalkan kesan kehilangan yang dirasakan anak dengan membangun kembali relationship dan trust. Orang tua dengan hak asuh perlu lebih sering meluangkan waktu dengan anak agar kebutuhan emosionalnya tetap terpenuhi. Orang tua perlu menunjukkan bahwa meskipun dinamika hubungan akan berubah, bukan berarti kualitas hubungan akan berkurang.
 
Bantuan psikoterapi (seperti play therapy) dapat membantu anak untuk memproses perasaan mereka agar tidak diganjal atau agar anak tidak merasa tertekan. Seorang play therapist memiliki tanggung jawab membuat suasana terasa aman bagi anak dan membantu anak mengevaluasi pengalaman mereka lalu melihatnya kembali dengan sudut pandang yang lebih sehat dan positif. Karena prosesnya melalui bermain, anak merasa aman saat mengekspresikan dirinya.
 
Pendekatan psikoterapi apapun yang dipilih akan memproses trauma demi kesehatan mental dan emosional anak, sehingga dari rasa takut akan menjadi rasa aman.
 
 

Kesimpulan

Bila Anda mencurigai orang sekitar Anda (baik anak maupun orang dewasa) memiliki unhealed trauma, kenali gejalanya dan cobalah berdiskusi dengannya. Tugas Anda adalah mendengarkan dan tidak menghakimi. Berikan dia dorongan untuk mencari bantuan profesional yang dapat memproses emosi dan pengalamannya. Bila ia ragu-ragu, ingatkan bahwa seorang profesional dilatih secara khusus untuk menangani kasus seperti ini dan memiliki sarana untuk membantu.
 
Berikut adalah kontak beberapa organisasi lokal yang dapat membantu anak atau orang dewasa menghadapi trauma:
CAE Indonesia
Perhati Counseling & Care Center