Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dalam Pendidikan

image


Permasalahan yang sering ditemui oleh anak dengan Spektrum Autisma, dan bagaimana penanganannya

Siswa dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dalam Pendidikan

 

Anak dalam spektrum autisme (ASD - autism spectrum disorder) adalah anak-anak berkebutuhan khusus yang sebenarnya sangat sulit masuk di sekolah umum (regular), kecuali ASD dengan kondisi ringan (mild). Seperti kita ketahui, kondisi autism memiliki spektrum yang luas, terentang dari yang paling ringan hingga berat dengan pelbagai hambatan perkembangan. Sebagian anak ASD memiliki keterlambatan perkembangan intelektual (intellectual impairment) sehingga pendidikan yang diberikan lebih tepat di sekolah-sekolah khusus atau unit belajar yang disediakan oleh sebuah lembaga pendidikan.

 

Diperkirakan hanya 12 persen siswa ASD yang terlibat penuh dalam pembelajaran di sekolah-sekolah umum. Biasanya, karakteristik siswa yang memiliki kondisi spektrum autisme, seperti minimnya kemampuan komunikasi dua arah, kemampuan sosialisasi yang buruk, dan perilakunya yang kaku dan cenderung tidak biasa, sering menempatkan mereka di situasi yang sulit untuk mengikuti pembelajaran di kelas. Akibatnya siswa ASD rentan mengalami kegagalan dalam belajar.

 

Bagi para pendidik, baik guru dan orangtua, perlu dipahami tujuan dari intervensi bagi siswa ASD (baik di sekolah regular maupun sekolah khusus) adalah meningkatkan kemampuan kognitif anak (cognitive functioning), membantu perkembangan area berbahasa anak (termasuk memikirkan dan menyusun intervensi untuk anak dengan non-verbal), mendorong kemampuan interaksi sosial anak, dan mengajarkan anak dalam menata perilaku yang terkontrol.

 

Metode-metode belajar yang telah dijalankan dan efektif bagi siswa-siswa autistik adalah yang berdasarkan pada prinsip-prinsip perilaku dengan pengajaran intensif melibatkan teknik modeling, imitasi, bantuan reinforcement, praktik dan pengulangan dalam keadaan yang sangat terstuktur. Namun, kendati metode ini dianggap efektif, seringkali pula keberhasilannya juga sangat berbeda pada tiap anak. Banyak di antaranya, kemajuannya terasa lamban. Lagipula, penggunaan pendekatan perilaku intensif tersebut dalam setting pendidikan inklusif, bagi kebanyakan penyelenggara sekolah merupakan tugas yang berat. Kecuali bagi sekolah-sekolah umum yang memang membuka layanan/unit khusus dengan dukungan maksimal dari penyelenggara sekolah dan para pemangku kepentingannya.

 

Sementara bagi anak ASD dengan kondisi ringan - dikenal dengan anak Asperger Syndrome, mereka tidak terlalu bermasalah dengan bahasa dan fungsi kognitif, akan tetapi memiliki perilaku yang unik dan berulang-ulang yang seringkali terlihat janggal di antara teman sebayanya. Siswa ASD ringan ini, melalui sedikit adaptasi kurikulum dan pendekatan mengajar dari para guru, dapat mengikuti pembelajaran di sekolah umum (inclusive mainstream class). Untuk anak-anak ini, guru perlu membuat rincian tugas yang jelas, memastikan mereka mengerjakan tugas yang diberikan, memodifikasi perilaku anak yang "tidak layak", dan mendorong siswa bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya.  Selain itu, guru juga perlu memastikan rutinitas yang tersusun dalam jadwal serta dilakukan teratur di dalam kelas, sehingga siswa tetap tenang dan fokus dalam belajar. (VJ - CAE)