Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

Sejarah dan Perkembangan Play Therapy

image


Overview mengenai bagaimana Play Therapy menjadi salah satu pendekatan yang efektif untuk membantu anak.

Latar Belakang Play Therapy

Bermain adalah aktivitas yang penting untuk perkembangan anak. Bahkan, bermain diakui sebagai hak setiap anak di bawah Konvensi PBB tentang Hak Anak. Pasal 31 menyatakan bahwa negara anggota perlu mengakui hak anak untuk beristirahat, bermain, dan melakukan aktivitas rekreasi. Tak hanya mengakui hak tersebut, PBB menganjurkan agar negara anggota menghargai dan mempromosikan kesempatan bagi anak untuk berpartisipasi dalam aktivitas rekreasi, bersantai, dan bermain. Bagi PBB, waktu bermain bukan hanya suatu aktivitas, tapi suatu hak.
 
Bermain adalah hak dasar seorang anak karena memengaruhi kesejahteraan fisik, mental, dan emosional anak. Anak yang menunjukkan permasalahan emosi, perilaku, atau telah mengalami trauma dapat dibantu dengan pendekatan play therapy, di mana anak diberikan outlet dan berbagai medium bermain oleh seorang praktisi play therapy yang menangani kasusnya.
 
Apakah basis play therapy sebagai metode penyembuhan dan pengembangan anak? Mengapa bermain dapat menjadi bentuk terapi? Dan mengapa play therapy dapat efektif membantu anak?
 
 

Dasar-Dasar Play Therapy:

Salah satu teori yang menjadi dasar dari play therapy adalah teori Freud dan Piaget yang menyatakan bahwa ada tiga motivasi dalam hidup, yaitu love (cinta), work (pekerjaan), dan play (bermain). Ketiga motivasi ini membentuk hidup yang bahagia, produktif, seimbang, dan berkecukupan. Seiring berjalannya waktu, pentingnya play sebagai motivasi semakin terabaikan padahal play tetap menjadi kebutuhan bahkan di era modern.
 
Teori lain yang mendorong perkembangan play therapy kontemporer adalah hasil riset berbasis data yang dilakukan Dr. Stuart Brown. Dr. Brown menemukan dari studinya terhadap 6.000 pelaku kriminalitas bahwa persamaan yang mereka miliki adalah kurang waktu bermain di masa kecil. Berdasarkan studi ini, Dr. Brown membuat hipotesa “bahwa kehadiran bermain di masa kecil membantu kesehatan, termasuk membantu kesuksesan di masa dewasa” sedangkan kurang bermain di masa kecil memberikan dampak negatif.
 
 

Play Therapy Sebagai Pendekatan Psikologis:

Play therapy sebagai pendekatan psikologis pertama kali dikenalkan pada dekade 1940an. Ke depannya, Virginia Axline pada tahun 1969 sangat memengaruhi play therapy dengan kepercayaannya bahwa anak yang diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan, rasa takut, serta kecemasannya dengan bermain akan dapat menyembuhkan dirinya (melakukan self-healing). 
 
Dari Axline, para ahli modern meneruskan studi dan penemuan mereka terhadap pendekatan play therapy. Menurut Garry Landreth (2002), play therapy dapat melancarkan potensi dalam bermain untuk menjadi suatu bentuk komunikasi. Karena itu, Eric S. Davis dan Jennifer K. Pereira (2014) menyarankan play therapy sebagai metode yang efektif saat harus bekerja sama dengan anak-anak dari latar belakang dan budaya yang berbeda. Penggunaan bermain sebagai outlet untuk menyuarakan pengalaman trauma dan sebagai bentuk komunikasi telah didokumentasi oleh Peter A Levine dan Maggie Kline (2008), yang menganjurkan manfaat bermain dalam membangun kegigihan individu.
 
Bagi ahli kontemporer seperti Cathy A. Malchiodi (2008), David A. Crenshaw (2015), dan John W. Seymour (2015), fungsi utama play therapy adalah menawarkan anak-anak tempat yang aman (safe space) untuk mengekspresikan perasaannya, mengurangi kecemasannya, mengontrol emosinya, dan mengembangkan rasa percaya diri. Semua ini memiliki hubungan dengan pembentukan kegigihan individu.
 
 

Studi terhadap Manfaat Play Therapy 

Salah satu bukti bahwa play therapy bermanfaat bagi anak-anak dari latar belakang yang bervariasi datang dari studi Blair Jordan (2013). Hasil studinya menemukan bahwa bencana alam dan kejadian traumatis lainnya menyebabkan rasa takut dan cemas yang hebat bagi anak-anak. Namun, play therapy efektif saat digunakan untuk membantu anak-anak tersebut.
 
Pengalaman yang sama dialami oleh anak-anak pengungsi. Riset Tina Hyder (2005) menunjukkan bahwa bermain memiliki sifat yang menyembuhkan saat digunakan untuk membantu anak-anak pengungsi yang telah menyaksikan perang. Biasanya, bekerja sama dengan anak-anak dengan latar belakang yang berbeda sulit untuk dilakukan terapis karena terbatasnya komunikasi verbal dan terhambat oleh perbedaan budaya. Dalam kasus ini, play therapy menjadi pendekatan yang efektif sebab fokus dari komunikasinya adalah melalui bermain dan tidak hanya dengan kata-kata.
 
Terapi bermain adalah metode yang efektif sebab sifatnya melampaui perbedaan budaya. Sifatnya juga melampaui usia. Anak yang sangat muda maupun anak yang memiliki kebutuhan khusus akan lebih luwes berkomunikasi dengan permainan, bukan dengan kata-kata. Sifat bermain yang universal membantu terapis untuk menyadari permasalahan anak dan menerapkan solusinya bersama anak.