Bagi orang awam, melihat sesi play therapy mungkin tampak seperti "cuma main doang". Namun, di balik aktivitas tersebut, terdapat proses terapeutik mendalam yang membantu mengatasi masalah emosi dan perilaku anak secara signifikan. Play therapy atau terapi bermain adalah pendekatan yang dirancang khusus karena anak-anak, terutama yang berusia di bawah 10 tahun, sangat membutuhkan pengalaman langsung secara sensori motorik untuk meregulasi emosi mereka.
Memenuhi Kebutuhan Emosi Dasar
Salah satu alasan utama mengapa play therapy sangat efektif adalah karena pendekatan ini fokus pada pemenuhan kebutuhan emosi dasar anak. Kebutuhan ini mencakup kasih sayang yang konsisten, rasa aman (security), validasi emosi, hingga pengalaman merasa diapresiasi. Ketika kebutuhan emosi ini tidak terpenuhi, anak sering kali menunjukkan masalah perilaku, seperti amarah yang meledak-ledak atau kecemasan yang ekstrem.
Membangun "Termometer Emosi"
Melalui play therapy, anak dibantu untuk mengenali skala emosi mereka. Sebagai contoh, anak yang awalnya hanya mengenal "marah banget" atau "tidak marah sama sekali" mulai belajar memiliki "termometer emosi". Dengan bantuan terapis, mereka belajar bahwa ada skala di tengah-tengah, sehingga mereka tidak langsung bereaksi secara reaktif atau agresif saat menghadapi masalah kecil.
Manfaat bagi Orang Tua
Dalam prosesnya, play therapy juga berfungsi sebagai jembatan atau mediator antara orang tua dan anak. Terapi ini membantu memenuhi kebutuhan emosi anak sehingga mereka lebih mudah diajak berkomunikasi, yang pada akhirnya memperkecil jarak emosional antara orang tua dan anak. Orang tua pun disarankan untuk mereplikasi "special time" atau waktu berkualitas yang konsisten di rumah, sebagaimana yang dilakukan dalam sesi terapi, untuk memperkuat jalur memori rasa aman dan berharga pada otak anak