Di zaman sekarang, banyak anak yang terlihat "bermain" namun hanya melalui layar ponsel atau game online. Meskipun anak terlihat asyik, para ahli menekankan bahwa stimulasi digital sangat berbeda dengan stimulasi nyata. Untuk menjaga kesehatan mental dan fokus anak, orang tua perlu memahami pentingnya keseimbangan antara dunia digital dan interaksi nyata, di mana play therapy sering kali hadir sebagai mediator penyembuhan.
Batasan Screen Time dan Dampak Digital Psikolog menyarankan agar screen time dibatasi secara ketat, terutama untuk anak usia sekolah, yaitu maksimal 1 jam per hari. Mengapa? Karena dunia digital bersifat abstrak bagi kognitif anak yang masih berpola pikir ""hitam-putih"". Terlalu banyak terpapar layar dapat mengganggu atensi dan konsentrasi anak di sekolah karena otak mereka terbiasa dengan stimulasi instan yang tidak melibatkan aktivitas fisik yang nyata.
Keunggulan Bermain Secara Konkrit
Bermain secara nyata (konkrit) memberikan stimulasi yang tidak bisa digantikan oleh teknologi manapun, di antaranya:
• Interaksi Multidimensi: Melibatkan kontak mata, komunikasi dua arah, dan sentuhan fisik antar kulit yang membangun ikatan emosional.
• Aktivasi Seluruh Indra: Contohnya, permainan sederhana seperti menebak angka di punggung anak melibatkan indra peraba (sensori) dan pendengaran (auditori) secara bersamaan.
• Keseimbangan 70/30: Idealnya, anak membutuhkan waktu bermain di luar ruangan (outdoor) setidaknya 2 jam sehari untuk menyeimbangkan paparan layar.
Kapan Play Therapy Diperlukan? Jika anak sudah mulai kesulitan fokus atau emosinya tidak stabil akibat kecanduan gadget, sesi play therapy bersama profesional dapat membantu ""mereset"" sistem saraf anak. Dalam ruang terapi, anak akan diajak kembali ke bahasa asli mereka, yaitu bermain yang melibatkan seluruh tubuh dan emosi, sehingga mereka merasa bahagia dan kembali siap untuk belajar secara optimal"