Gedung e-Building Jl. Suryopranoto No.2 Ruko Harmoni Plaza Blok I No.1-4 Jakarta Pusat
  • 021 - 632 3399
  • info@cae-indonesia.com
  • Masuk

Artikel

How to Connect with Our Kids?

image


Membangun Strategi untuk Berkomunikasi dengan Anak

Penting bagi orang tua untuk tak hanya menyadari bahwa cara pikir anak berbeda dengan orang dewasa, tapi juga apa saja perbedaan sudut pandang anak dengan orang dewasa. 
 
Akan ada saatnya di mana perilaku anak membutuhkan koreksi, seperti bertengkar dengan kakak adik. Atau sering mengganggu orang dewasa karena cerewet atau cengeng. Di sini cara orang tua berkomunikasi dengan anak perlu diperhatikan. Ada kalanya orang tua memiliki maksud yang baik (seperti mengajar disiplin dan tanggung jawab ke anak), tetapi cara penyampaiannya bagi anak kurang tepat.
 
Anak akan berkembang secara lebih sehat bila merasa diterima oleh lingkungannya, terutama oleh keluarganya. Karena itu, metode komunikasi orang tua dengan anak sangat penting. Bila anak merasa caranya melihat dunia didengarkan dan dihormati oleh orang-orang di sekitarnya, ia akan lebih responsif terhadap koreksi orang dewasa. Sebaliknya, bila orang dewasa menggunakan cara komunikasi top-down (yaitu bentuk komunikasi di mana orang dewasa langsung memberi instruksi atau perintah ke anak, tanpa bisa dibantah), anak dapat terpengaruh secara negatif.
 
Kuncinya adalah bagi orang dewasa untuk mengakui rasa bingung anak yang mungkin belum menyadari sistem orang dewasa. Hindari membentak anak untuk “jangan begitu!” atau “jangan menangis!” Bila sering dilakukan, anak bisa menangkap bahwa apa yang dia rasakan atau caranya melihat dunia tidak pantas untuk diekspresikan. Akhirnya ia berhenti mengekspresikan dirinya. 
 
 
Cara Berpikir Anak Berbeda Dengan Orang Tua
 
Jadi apa saja perbedaan cara berpikir anak dengan orang tua? Ada 3 perbedaan utama:
 
Anak belum bisa melihat perspektif orang lain, hanya perspektifnya sendiri
Pasti Anda pernah melihat anak yang berlari sambil berteriak di tempat umum. Yang ia pikirkan hanya bahwa permainan yang ia lakukan itu menyenangkan. Ia tidak berpikir bahwa orang lain akan terganggu atau ia bisa menyakiti orang lain bila ia menabraknya.
 
Anak memiliki imajinasi yang besar dan belum menguasai logika
Sifat ini sering membuat anak menggemaskan. Anak mudah percaya dengan Santa atau dengan monster, contohnya. 
Ada anak yang mengarang cerita yang tidak masuk akal bagi orang dewasa. Mungkin anak bercerita bahwa baginya kelinci berwarna biru, atau ada kucing yang makan tanah. Jangan terlalu keras saat berkomunikasi dengan anak seperti ini, sebab ia dapat berhenti membagi isi imajinasinya. Lebih baik diperingati agar jangan mulai bercerita saat orang dewasa terlihat sibuk.
 
Anak menangkap dunia secara simpel 
Anak belum dapat menangkap nuansa yang kompleks. Baginya, hal yang baik atau orang yang baik padanya adalah 100% baik. Sebaliknya, sesuatu yang buruk akan diartikan 100% jahat.
 
 
Bagaimana Cara Berkomunikasi dengan Anak?
 
Bagi orang tua yang ingin mengoreksi perilaku anak, mengajar prinsip seperti tanggung jawab, atau ingin berkomunikasi dengan anak secara lebih baik, ada beberapa tips yang dapat diterapkan, di antaranya:
 
Walau terdengar aneh, cobalah untuk mendengarkan dan memahami anak. Pahami niat dan motivasinya. Bila tidak, anak merasa bodoh, tidak didengarkan, dan/atau tidak dihargai.
Contoh: ada anak yang menuangkan susu ke tanaman di pot. Ibu sang anak melihatnya dan langsung marah. Bodoh sekali si anak. Karena tindakannya, tanaman itu akan mati dan susu di lemari es terbuang percuma. Padahal niat anak tidak buruk. Ia tahu bahwa susu akan membuat badannya sehat dan kuat, jadi ia ingin memberi susu di pot tanaman agar tanaman dapat tumbuh subur dan ibunya senang. Setelah dimarahi ibunya, ia merasa bodoh dan sangat bersalah.
 
Dengan tenang, jelaskan perspektif orang dewasa serta akibat buruk dari perilaku anak yang ingin dikoreksi.
Contoh: ingat anak yang berlari di tempat umum? Bila anak sudah berhenti berlari, berikan informasi tentang apa yang bisa terjadi bila ia melakukannya lagi. Bahwa ia bisa menabrak sesuatu dan melukai dirinya sendiri. Bahwa ia bisa menabrak orang lain dan melukai orang itu, terutama bila ia menabrak lansia. Bahwa tidak semua orang dewasa senang dengan keributannya. Ada orang dewasa yang tidak ragu membentak anak yang mengganggu tempat umum. Jelaskan dengan tenang agar anak mulai mengerti hubungan sebab-akibat di dunia.
 
Jangan buat anak merasa bersalah atau malu atas kelakuannya, terutama bila ini kesalahan pertama. Jangan pula memperluas masalah.
Contoh: ada anak yang terlambat bangun tidur. Akibatnya jadwal orang tua ikut mundur. Ayah anak pulang kantor dan memarahi anak. Ayah mengatakan bahwa karena kelakuannya, situasi di kantor berantakan, boss tidak senang dengan ayah, dan hari ini menjadi hari terburuk seumur hidup yang dialami sang ayah. Mungkin niat ayah adalah agar anak serius mengoreksi kebiasaan buruknya bangun siang. Tetapi anak merasa sangat bersalah dan merasa bahwa keberadaannya tidak membawa kebahagiaan bagi ayahnya. Anak merasa dirinya yang salah, bukan tindakannya.
 
Jangan membandingkannya dengan kakak adik atau anak lain. Fokuslah hanya pada tindakan atau emosi anak yang bersangkutan.
Hal ini dapat berkelanjutan ke usia remaja dan dewasa, sehingga kakak adik tidak akur. Setiap anak memiliki sisi baik yang perlu diapresiasi. Anak tidak akan merasa dirinya baik atau dihargai bila dibandingkan dengan orang lain.
 
---
 
Dengan dukungan dan dengan lingkungan yang terbuka terhadap perasaan dan imajinasi anak, orang tua dapat membantu anak melakukan refleksi terhadap perilakunya. Dari situ, anak dapat belajar untuk bertindak secara lebih positif ke depannya.
 
 
Sebagian dari materi artikel ini diambil dari:
Kudva, Sudha. Childhood Matters. Edited by Lorien Holland, Second ed., Percetakan Kencana Sdn. Bhd., 2017.