"Sebagai Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, saya, Husnul Khatimah, merasa sangat beruntung telah berpartisipasi dalam program pelatihan yang diselenggarakan oleh CAE. Kesempatan untuk belajar dan memperbaharui pengetahuan ini sangat berharga, terutama dalam konteks mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya merasa sangat puas dengan kualitas pembelajaran yang disajikan. Para narasumber yang berbagi pengetahuan mereka tidak hanya kompeten, tetapi juga sangat hangat dan membuka ruang diskusi yang menginspirasi. Hal ini sangat penting bagi kami, masyarakat daerah yang jauh dari pusat sumber. Saya mempercayai dan mendukung visi dan misi CAE dalam menyediakan program-program dengan modul berkualitas di bidang pendidikan khusus dan pelatihan bersertifikat dengan standar yang diakui secara internasional. Saya melihat ini sebagai langkah penting dalam mendukung gerakan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan dalam mencapai potensi dirinya yang optimal."
"Pengalaman Mengikuti Storyplay Level 2
Setelah mengikuti storyplay level 1 saya tak sabar menunggu level 2 dimulai. Senang sekali akhirnya setelah dua tahun kelas level 2 dimulai. Mengikuti storyplay level 2, sangat membantu profesi saya sebagai dosen ilmu komunikasi, play therapist, dan academic & family coach. Storyplay level 2 memungkinkan saya membantu klien play therapy untuk memanfaatkan potensi-potensi dirinya, yang mungkin belum dikenali. Sementara untuk klien coaching, storyplay memudahkan proses coachee menemukan solusi dari tantangan dalam mencapai tujuan belajarnya.
Ternyata lebih gampang menemukan solusi saat memadukan visualisasi dan bercerita. Semuanya jadi lebih nyata. Ini testimoni coachee academic yang pernah saya dampingi setelah saya ajak melakukan teknik abc drawing.
Saya baru menyadari kalau safe place saya sederhana sekali. Ini testimoni yang disampaikan klien lainnya setelah berbagi tentang garden of happiness yang dibuatnya dalam salah satu sesi.
Teknik abc drawing dan garden of happiness sudah dipelajari di storyplay level 1. Tapi bagaimana memanfaatkan kedua teknik ini dengan lebih mendalam dan sesuai dengan kebutuhan klien hanya bisa diperoleh setelah mengikuti storyplay level 2.
Tribuana Tungga Dewi (Tantri) - Batch 1 Storyplay Level 1 & 2
- Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.
- ?Play Therapist.
- ?Academic & Family Coach"
"Saya Henny berdomisili di Medan, Ibu dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang saat ini berusia 18 tahun. Teringat saat anak masih berusia 1 tahun, disaat dia memerlukan penanganan khusus, tempat terapi yang ada saat itu sangat lah terbatas.
Kita sebagai orang tua tentu saja selalu berusaha mencari solusi yang terbaik buat anak, sampai suatu hari 10 tahun yang lalu tepatnya tahun 2013 saya mengenal CAE dari salah satu temen, dimana kita bisa belajar disana bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus.
Saya sangat tertarik kemudian saya juga bergabung untuk belajar karena selain anak diterapi oleh para terapis kita sebagai orangtua juga tetap harus turun tangan sendiri supaya anak kita bisa berkembang lebih baik lagi.
Dan setelah belajar, saya sangat berterima kasih kepada CAE karena saya bener-benar dibekali pengetahuan yang sebelumnya saya tidak pernah mendapatkannya. Walaupun pembelajarannya cukup singkat dan terbatas justru dari sinilah berkelanjutan tersentuh, tergerak sendiri ingin belajar lagi untuk menambah ilmu.
Akhir kata saya ingin berbagi disini karena saya bener-benar merasakan manfaat dari pembelajaran di CAE yang membuka wawasan kita, dan kita bisa lebih memahami dan mengerti kondisi anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak sendiri."
"Saya pribadi masih menggunakan storyplay, terutama dengan klien yang berusia 10 tahun ke atas s/d yang sejauh ini usia 16 tahun (biasanya untuk anak yang mengalami anxiety, dan yang paling parah saya pernah tangani saat ini adalah self harm, dengan menyayat tangan)
Saya suka menggunakan story play karena banyak faktor, seperti cukup ringkas (hanya seperti melakukan art and craft pada anak), seperti ice breaker (terutama pada anak yang pendiam), tidak membutuhkan tanya jawab yang detail untuk mengorek informasi (dimana kalau kita konseling, biasanya kadang anak merasa was was), dan anak merasa lebih nyaman (menurut pandangan saya), serta metode dalam storyplay bervariasi, tidak perlu kaku dan kita bisa memilih jenis yang mana yang cocok untuk klien (atau ketika kita kurang mempersiapkan alat2, kita hanya butuh kertas dan pensil warna atau crayon!).
Keefektifannya bagus sekali, dimana sering saya jumpai: anak menjadi lebih rileks dan calm down (terutama saat membuat mangkok masalah dari clay), lebih terbuka (dimana mereka jadi lebih mau cerita dari drawing yang mereka lakukan), dan mereka juga mau balik untuk konseling lagi (its means they like it).
Sejauh ini, saya merasa sangat bersyukur mengikuti storyplay, dan berharap bs mengikuti level 2 di tahun depan (jika tidak ada halangan) "
"Saya Priskilla seorang pendidik yang bekerja di Taman Pengasuhan Anak (TPA) mom’s Care , Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Firdaus dan Sekolah Dasar (SD) Widya Kirana dibawah naungan Yayasan ELIM Kudus,
Sangat bersyukur saya bisa mengenal Lembaga pendidikan dan pelatihan Cipta Aliansi Edikasi (CAE) Indonesia. Saat saya memutuskan untuk mengambil pelatihan tentang Early Childhood Batch saya kwatir jika saya tidak mengerti dan saya beragapan pasti hanya teori saja yang didapat karena prosesnya hanya melalui online.
Tapi puji tuhan tidak sesuai apa yang saya pikirkan, saat saya mengikuti dari awal pembelajaran hingga lulus, materi pembelajarannya sangat luar biasa bagus dan keren karena tidak hanya teori yang diberikan tetapi banyak kasus-kasus yang diberikan, para pengajarnya juga sangat berpengalaman. Akhirnya basic pendidikan yang saya terima dari CAE menjadikan pondasi saya lebih kuat dalam melangkah saat menangani anak berkebutuhan khusus."
"Saya Martha Sonya Kusumadewi. Saya menempuh kuliah S1 Psikologi di Universitas Maranatha, Bandung. Karena passion saya yang terus bertumbuh untuk anak berkebutuhan khusus dan ketertarikan saya yang kuat dengan dunia pendidikan, saya kemudian menempuh pendidikan S2 di University of Queensland, Australia, major in inclusive education and special needs.
Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2011, saya sempat berprofesi sebagai guru dan kemudian menjadi terapis edukasi bermodalkan gelar sertifikasi yang saya dapatkan sebagai Educational Therapist dari University Of California, Riverside.
Selama berprofesi sebagai terapis bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan pendekatan terapi edukasi, saya banyak melihat anak-anak yang sangat terbantu perkembangannya. Namun ada satu hal dimana saya merasakan bahwa terapi edukasi tidak “tajam” untuk membantu anak dengan masalah sosial emosi. Saya pun ingin melengkapi kompetensi saya. Hal ini menjadi motivasi bagi saya untuk kemudian di tahun 2019 menempuh pendidikan Postgraduate Certificate in Therapeutic Play Skill.
Dalam masa ini, ketika mempraktekkan play therapy dan menjalani clinical hours, saya sudah dapat merasakan dan melihat “the magic in play” yang kemudian berdampak sangat baik dalam membantu anak-anak. Tidak hanya itu, dampak yang positif pun dapat dirasakan dan dialami oleh orang tua. Intervensi yang tepat menggunakan play therapy untuk men-support kesehatan mental anak kemudian juga memberi dampak yang positif terhadap kemampuan anak belajar.
Melanjutkan ke Postgraduate Diploma in Play Therapy di tahun 2021, lebih memperlengkapi saya untuk membantu anak-anak dengan resiko tinggi, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus.
Banyak anak berkebutuhan khusus memiliki kendala dalam berkomunikasi dua arah. Hal ini tidak menjadi penghalang dalam proses play therapy karena “play is the child’s language”. Anak-anak berkebutuahn khusus justru terfasilitasi untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri mereka apa adanya dan secara aman ketika mereka bereksplorasi di dalam play room. Proses mereka di dalam sesi-sesi play therapy (special time) kemudian mendukung beragam aspek perkembangan lain."
Husnul Khatimah
Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani
"Sebagai Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, saya, Husnul Khatimah, merasa sangat beruntung telah berpartisipasi dalam program pelatihan yang diselenggarakan oleh CAE. Kesempatan untuk belajar dan memperbaharui pengetahuan ini sangat berharga, terutama dalam konteks mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya merasa sangat puas dengan kualitas pembelajaran yang disajikan. Para narasumber yang berbagi pengetahuan mereka tidak hanya kompeten, tetapi juga sangat hangat dan membuka ruang diskusi yang menginspirasi. Hal ini sangat penting bagi kami, masyarakat daerah yang jauh dari pusat sumber. Saya mempercayai dan mendukung visi dan misi CAE dalam menyediakan program-program dengan modul berkualitas di bidang pendidikan khusus dan pelatihan bersertifikat dengan standar yang diakui secara internasional. Saya melihat ini sebagai langkah penting dalam mendukung gerakan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan dalam mencapai potensi dirinya yang optimal."
Tribuana Tungga Dewi (Tantri)
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila | Play Therapist | Academic & Family Coach
"Pengalaman Mengikuti Storyplay Level 2 Setelah mengikuti storyplay level 1 saya tak sabar menunggu level 2 dimulai. Senang sekali akhirnya setelah dua tahun kelas level 2 dimulai. Mengikuti storyplay level 2, sangat membantu profesi saya sebagai dosen ilmu komunikasi, play therapist, dan academic & family coach. Storyplay level 2 memungkinkan saya membantu klien play therapy untuk memanfaatkan potensi-potensi dirinya, yang mungkin belum dikenali. Sementara untuk klien coaching, storyplay memudahkan proses coachee menemukan solusi dari tantangan dalam mencapai tujuan belajarnya. Ternyata lebih gampang menemukan solusi saat memadukan visualisasi dan bercerita. Semuanya jadi lebih nyata. Ini testimoni coachee academic yang pernah saya dampingi setelah saya ajak melakukan teknik abc drawing. Saya baru menyadari kalau safe place saya sederhana sekali. Ini testimoni yang disampaikan klien lainnya setelah berbagi tentang garden of happiness yang dibuatnya dalam salah satu sesi. Teknik abc drawing dan garden of happiness sudah dipelajari di storyplay level 1. Tapi bagaimana memanfaatkan kedua teknik ini dengan lebih mendalam dan sesuai dengan kebutuhan klien hanya bisa diperoleh setelah mengikuti storyplay level 2. Tribuana Tungga Dewi (Tantri) - Batch 1 Storyplay Level 1 & 2 - Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. - ?Play Therapist. - ?Academic & Family Coach"
Henny
Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus
"Saya Henny berdomisili di Medan, Ibu dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang saat ini berusia 18 tahun. Teringat saat anak masih berusia 1 tahun, disaat dia memerlukan penanganan khusus, tempat terapi yang ada saat itu sangat lah terbatas. Kita sebagai orang tua tentu saja selalu berusaha mencari solusi yang terbaik buat anak, sampai suatu hari 10 tahun yang lalu tepatnya tahun 2013 saya mengenal CAE dari salah satu temen, dimana kita bisa belajar disana bagaimana cara menangani anak berkebutuhan khusus. Saya sangat tertarik kemudian saya juga bergabung untuk belajar karena selain anak diterapi oleh para terapis kita sebagai orangtua juga tetap harus turun tangan sendiri supaya anak kita bisa berkembang lebih baik lagi. Dan setelah belajar, saya sangat berterima kasih kepada CAE karena saya bener-benar dibekali pengetahuan yang sebelumnya saya tidak pernah mendapatkannya. Walaupun pembelajarannya cukup singkat dan terbatas justru dari sinilah berkelanjutan tersentuh, tergerak sendiri ingin belajar lagi untuk menambah ilmu. Akhir kata saya ingin berbagi disini karena saya bener-benar merasakan manfaat dari pembelajaran di CAE yang membuka wawasan kita, dan kita bisa lebih memahami dan mengerti kondisi anak-anak berkebutuhan khusus terutama anak sendiri."
Katherina, M.Psi., Psikolog
Child Psychologist | Founder of Pedia Clinic Cemara Asri Medan | Certification in StoryPlay Foundation Level 1 | Postgraduate Certificate in Therapeutic Play Skills
"Saya pribadi masih menggunakan storyplay, terutama dengan klien yang berusia 10 tahun ke atas s/d yang sejauh ini usia 16 tahun (biasanya untuk anak yang mengalami anxiety, dan yang paling parah saya pernah tangani saat ini adalah self harm, dengan menyayat tangan) Saya suka menggunakan story play karena banyak faktor, seperti cukup ringkas (hanya seperti melakukan art and craft pada anak), seperti ice breaker (terutama pada anak yang pendiam), tidak membutuhkan tanya jawab yang detail untuk mengorek informasi (dimana kalau kita konseling, biasanya kadang anak merasa was was), dan anak merasa lebih nyaman (menurut pandangan saya), serta metode dalam storyplay bervariasi, tidak perlu kaku dan kita bisa memilih jenis yang mana yang cocok untuk klien (atau ketika kita kurang mempersiapkan alat2, kita hanya butuh kertas dan pensil warna atau crayon!). Keefektifannya bagus sekali, dimana sering saya jumpai: anak menjadi lebih rileks dan calm down (terutama saat membuat mangkok masalah dari clay), lebih terbuka (dimana mereka jadi lebih mau cerita dari drawing yang mereka lakukan), dan mereka juga mau balik untuk konseling lagi (its means they like it). Sejauh ini, saya merasa sangat bersyukur mengikuti storyplay, dan berharap bs mengikuti level 2 di tahun depan (jika tidak ada halangan) "
Priskilla
Pendidik
"Saya Priskilla seorang pendidik yang bekerja di Taman Pengasuhan Anak (TPA) mom’s Care , Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Firdaus dan Sekolah Dasar (SD) Widya Kirana dibawah naungan Yayasan ELIM Kudus, Sangat bersyukur saya bisa mengenal Lembaga pendidikan dan pelatihan Cipta Aliansi Edikasi (CAE) Indonesia. Saat saya memutuskan untuk mengambil pelatihan tentang Early Childhood Batch saya kwatir jika saya tidak mengerti dan saya beragapan pasti hanya teori saja yang didapat karena prosesnya hanya melalui online. Tapi puji tuhan tidak sesuai apa yang saya pikirkan, saat saya mengikuti dari awal pembelajaran hingga lulus, materi pembelajarannya sangat luar biasa bagus dan keren karena tidak hanya teori yang diberikan tetapi banyak kasus-kasus yang diberikan, para pengajarnya juga sangat berpengalaman. Akhirnya basic pendidikan yang saya terima dari CAE menjadikan pondasi saya lebih kuat dalam melangkah saat menangani anak berkebutuhan khusus."
Martha Sonya Kusumadewi
Terapis Anak Berkebutuhan Khusus
"Saya Martha Sonya Kusumadewi. Saya menempuh kuliah S1 Psikologi di Universitas Maranatha, Bandung. Karena passion saya yang terus bertumbuh untuk anak berkebutuhan khusus dan ketertarikan saya yang kuat dengan dunia pendidikan, saya kemudian menempuh pendidikan S2 di University of Queensland, Australia, major in inclusive education and special needs. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 2011, saya sempat berprofesi sebagai guru dan kemudian menjadi terapis edukasi bermodalkan gelar sertifikasi yang saya dapatkan sebagai Educational Therapist dari University Of California, Riverside. Selama berprofesi sebagai terapis bagi anak-anak berkebutuhan khusus dengan pendekatan terapi edukasi, saya banyak melihat anak-anak yang sangat terbantu perkembangannya. Namun ada satu hal dimana saya merasakan bahwa terapi edukasi tidak “tajam” untuk membantu anak dengan masalah sosial emosi. Saya pun ingin melengkapi kompetensi saya. Hal ini menjadi motivasi bagi saya untuk kemudian di tahun 2019 menempuh pendidikan Postgraduate Certificate in Therapeutic Play Skill. Dalam masa ini, ketika mempraktekkan play therapy dan menjalani clinical hours, saya sudah dapat merasakan dan melihat “the magic in play” yang kemudian berdampak sangat baik dalam membantu anak-anak. Tidak hanya itu, dampak yang positif pun dapat dirasakan dan dialami oleh orang tua. Intervensi yang tepat menggunakan play therapy untuk men-support kesehatan mental anak kemudian juga memberi dampak yang positif terhadap kemampuan anak belajar. Melanjutkan ke Postgraduate Diploma in Play Therapy di tahun 2021, lebih memperlengkapi saya untuk membantu anak-anak dengan resiko tinggi, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus. Banyak anak berkebutuhan khusus memiliki kendala dalam berkomunikasi dua arah. Hal ini tidak menjadi penghalang dalam proses play therapy karena “play is the child’s language”. Anak-anak berkebutuahn khusus justru terfasilitasi untuk berkomunikasi dan mengekspresikan diri mereka apa adanya dan secara aman ketika mereka bereksplorasi di dalam play room. Proses mereka di dalam sesi-sesi play therapy (special time) kemudian mendukung beragam aspek perkembangan lain."