"Saya Lusi, peserta Story Play Level 1 di tahun 2023.
Saya ingin mengapresiasi Story Play yang menjadi salah satu titik balik dari rasa trauma yang selama ini banyak memblokir diri saya, terutama rasa tidak percaya diri di area pendidikan.
Setelah proses itu, saya beranikan diri kuliah mengambil jurusan Psikologi, dan saat ini berada di semester 5.
Satu hal lagi yang sangat berkesan, pada Desember 2025, menutup tahun, pertama kalinya saya mencoba membuat sebuah lukisan (masih di atas kertas) yang terinspirasi dari sesi metafora di kelas. Waktu itu saya menceritakan dengan suara yang masih tergagap, tetapi bagi saya itu langkah penting untuk berani tampil apa adanya.
Terima kasih, Story Play, sudah menolong membuka kembali nilai diri saya.
God bless you all, dan rasanya belum terlambat untuk mengucapkan: Have a blessed new year ahead."
"Mengikuti program Certificate hingga Diploma Play Therapy merupakan perjalanan belajar yang sangat bermakna bagi saya. Berawal dari ketertarikan untuk memahami dunia anak, proses ini menumbuhkan saya tidak hanya secara profesional, tetapi juga secara personal.
Melalui pendalaman Play Therapy, saya semakin memahami bahwa anak berkomunikasi lewat permainan, simbol, dan ekspresi yang membutuhkan kehadiran penuh serta empati. Setiap sesi pembelajaran membantu saya menjadi lebih peka terhadap kebutuhan anak dan lebih percaya pada proses yang mereka jalani.
Program Diploma ini tidak hanya memperkaya pemahaman saya dalam mendampingi anak dengan permasalahan yang semakin kompleks, tetapi juga menolong saya mengenal diri sendiri dengan lebih utuh. Saya merasa bertumbuh menjadi terapis yang lebih hangat, reflektif, dan menghargai keunikan setiap anak serta perjalanan mereka."
"Saya baru saja menyelesaikan course Diploma Play Therapy. Bermula dari 2 tahun lalu, saya mengikuti Certificate in Therapeutic Play, saya dibentuk menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Saya rindu untuk meneruskan program Diploma supaya dapat membantu lebih banyak klien dengan tingkat kesulitan yang beragam. Program Certificate dan Diploma menjadi perjalanan belajar yang sangat bermakna bagi saya. Dari setiap sesi, saya menjadi semakin memahami dunia anak dan cara mereka berkomunikasi lewat permainan. Ada banyak momen yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya hadir dengan empati dan mendengarkan tanpa kata-kata. Melalui latihan dan refleksi yang diberikan, saya belajar untuk lebih peka terhadap simbol, ekspresi, dan dinamika batin anak. Program ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara saya melihat proses konseling—lebih hangat, kreatif, dan menghargai keunikan dan proses belajar setiap anak. Lebih dari itu, melalui program ini, saya mengenal diri saya sendiri lebih lagi sehingga saya bisa menjadi pribadi yang lebih sehat dan utuh."
"Dua tahun terakhir saya berkesempatan berkolaborasi dengan beberapa learning center tempat anak-anak pengungsi belajar yang pengajarnya juga dari kalangan pengungsi. Ternyata cukup banyak anak-anak yang memiliki problem perilaku dan belajar, baik karena keterbatasan maupun karena keluarbiasaan anak tersebut. Beberapa anak tidak bisa fokus atau duduk tenang selama belajar di kelas. Ada yang terus bergerak dan sering mengganggu temannya. Ada anak yang tidak mau mendengarkan instruksi guru bahkan beberapa anak menunjukkan sikap agresif baik berupa kata-kata maupun tindakan. Di situlah saya sempat kesal, kenapa tidak jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi semacam ini. Saya yakin ada hal-hal yang dalam batasan tertentu sebenarnya bisa dilakukan oleh orang-orang awam/non-profesional seperti saya dan para relawan guru untuk membantu anak-anak ini beradaptasi dengan kondisinya sendiri dan dengan lingkungannya. Minimal kami bisa menciptakan ruang aman dan atmosfer yang positif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut.
Saya mendengar tentang kursus PKP2I batch 20 dari salah satu teman yang lebih dulu mengikuti kursus ini. Dan saya harus akui, kursus ini tidak hanya memperluas wawasan tentang pendidikan inklusi, namun juga mengenalkan keterampilan-keterampilan yang saya butuhkan selama ini. Selama mengikuti kursus, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang berharga baik dari para tutor yang mumpuni maupun para peserta berbagai latar belakang diantaranya guru, personal tutor, dokter, para orangtua ABK, dan shadow teacher. Di sini saya belajar tentang prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan inklusi sekaligus mengenali kondisi-kondisi khusus pada anak dan bagaimana merespon kondisi tersebut sesuai kapasitas saya. Penugasan yang diberikan menjadi sarana latihan merancang program atau kegiatan yang berwawasan inklusif yang memungkinkan anak-anak dengan kebutuhan khusus terakomodir dan terdukung proses belajar dan beradaptasinya.
Saya yakin pengetahuan dan keterampilan ini tidak hanya dibutuhkan di ruang-ruang kelas atau sekolah, namun di lingkungan lain termasuk dalam situasi kedaruratan seperti kem pengungsi, di mana selalu bisa ditemukan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan secara berbeda dalam interaksi dengan anak-anak pengungsi terutama mereka yang berkebutuhan khusus. Ada kepekaan lebih yang dibutuhkan dalam merancang program dan memastikan tersedianya dukungan sosial yang semakin mendekatkan setiap anak, di mana pun, pada hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai keunikannya."
"Sebagai Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, saya, Husnul Khatimah, merasa sangat beruntung telah berpartisipasi dalam program pelatihan yang diselenggarakan oleh CAE. Kesempatan untuk belajar dan memperbaharui pengetahuan ini sangat berharga, terutama dalam konteks mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya merasa sangat puas dengan kualitas pembelajaran yang disajikan. Para narasumber yang berbagi pengetahuan mereka tidak hanya kompeten, tetapi juga sangat hangat dan membuka ruang diskusi yang menginspirasi. Hal ini sangat penting bagi kami, masyarakat daerah yang jauh dari pusat sumber. Saya mempercayai dan mendukung visi dan misi CAE dalam menyediakan program-program dengan modul berkualitas di bidang pendidikan khusus dan pelatihan bersertifikat dengan standar yang diakui secara internasional. Saya melihat ini sebagai langkah penting dalam mendukung gerakan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan dalam mencapai potensi dirinya yang optimal."
"Pengalaman Mengikuti Storyplay Level 2
Setelah mengikuti storyplay level 1 saya tak sabar menunggu level 2 dimulai. Senang sekali akhirnya setelah dua tahun kelas level 2 dimulai. Mengikuti storyplay level 2, sangat membantu profesi saya sebagai dosen ilmu komunikasi, play therapist, dan academic & family coach. Storyplay level 2 memungkinkan saya membantu klien play therapy untuk memanfaatkan potensi-potensi dirinya, yang mungkin belum dikenali. Sementara untuk klien coaching, storyplay memudahkan proses coachee menemukan solusi dari tantangan dalam mencapai tujuan belajarnya.
Ternyata lebih gampang menemukan solusi saat memadukan visualisasi dan bercerita. Semuanya jadi lebih nyata. Ini testimoni coachee academic yang pernah saya dampingi setelah saya ajak melakukan teknik abc drawing.
Saya baru menyadari kalau safe place saya sederhana sekali. Ini testimoni yang disampaikan klien lainnya setelah berbagi tentang garden of happiness yang dibuatnya dalam salah satu sesi.
Teknik abc drawing dan garden of happiness sudah dipelajari di storyplay level 1. Tapi bagaimana memanfaatkan kedua teknik ini dengan lebih mendalam dan sesuai dengan kebutuhan klien hanya bisa diperoleh setelah mengikuti storyplay level 2.
Tribuana Tungga Dewi (Tantri) - Batch 1 Storyplay Level 1 & 2
- Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila.
- ?Play Therapist.
- ?Academic & Family Coach"
Lusi
Ibu Rumah Tangga | Ibu dengan 2 putri spesial
"Saya Lusi, peserta Story Play Level 1 di tahun 2023. Saya ingin mengapresiasi Story Play yang menjadi salah satu titik balik dari rasa trauma yang selama ini banyak memblokir diri saya, terutama rasa tidak percaya diri di area pendidikan. Setelah proses itu, saya beranikan diri kuliah mengambil jurusan Psikologi, dan saat ini berada di semester 5. Satu hal lagi yang sangat berkesan, pada Desember 2025, menutup tahun, pertama kalinya saya mencoba membuat sebuah lukisan (masih di atas kertas) yang terinspirasi dari sesi metafora di kelas. Waktu itu saya menceritakan dengan suara yang masih tergagap, tetapi bagi saya itu langkah penting untuk berani tampil apa adanya. Terima kasih, Story Play, sudah menolong membuka kembali nilai diri saya. God bless you all, dan rasanya belum terlambat untuk mengucapkan: Have a blessed new year ahead."
Marliana Sugiono
School Counselor Regents School Bali | Trainee Play Therapist & Filial Play Coach | Welas Asih Wellness Center Bali
"Mengikuti program Certificate hingga Diploma Play Therapy merupakan perjalanan belajar yang sangat bermakna bagi saya. Berawal dari ketertarikan untuk memahami dunia anak, proses ini menumbuhkan saya tidak hanya secara profesional, tetapi juga secara personal. Melalui pendalaman Play Therapy, saya semakin memahami bahwa anak berkomunikasi lewat permainan, simbol, dan ekspresi yang membutuhkan kehadiran penuh serta empati. Setiap sesi pembelajaran membantu saya menjadi lebih peka terhadap kebutuhan anak dan lebih percaya pada proses yang mereka jalani. Program Diploma ini tidak hanya memperkaya pemahaman saya dalam mendampingi anak dengan permasalahan yang semakin kompleks, tetapi juga menolong saya mengenal diri sendiri dengan lebih utuh. Saya merasa bertumbuh menjadi terapis yang lebih hangat, reflektif, dan menghargai keunikan setiap anak serta perjalanan mereka."
Eloise
Konselor sekolah Sekolah Dian Harapan, Daan Mogot | Trainee Play Therapist
"Saya baru saja menyelesaikan course Diploma Play Therapy. Bermula dari 2 tahun lalu, saya mengikuti Certificate in Therapeutic Play, saya dibentuk menjadi pribadi yang lebih percaya diri. Saya rindu untuk meneruskan program Diploma supaya dapat membantu lebih banyak klien dengan tingkat kesulitan yang beragam. Program Certificate dan Diploma menjadi perjalanan belajar yang sangat bermakna bagi saya. Dari setiap sesi, saya menjadi semakin memahami dunia anak dan cara mereka berkomunikasi lewat permainan. Ada banyak momen yang membuka mata saya tentang betapa pentingnya hadir dengan empati dan mendengarkan tanpa kata-kata. Melalui latihan dan refleksi yang diberikan, saya belajar untuk lebih peka terhadap simbol, ekspresi, dan dinamika batin anak. Program ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengubah cara saya melihat proses konseling—lebih hangat, kreatif, dan menghargai keunikan dan proses belajar setiap anak. Lebih dari itu, melalui program ini, saya mengenal diri saya sendiri lebih lagi sehingga saya bisa menjadi pribadi yang lebih sehat dan utuh."
Elisabeth Huwa
Pekerja Sosial / Pemerhati Anak
"Dua tahun terakhir saya berkesempatan berkolaborasi dengan beberapa learning center tempat anak-anak pengungsi belajar yang pengajarnya juga dari kalangan pengungsi. Ternyata cukup banyak anak-anak yang memiliki problem perilaku dan belajar, baik karena keterbatasan maupun karena keluarbiasaan anak tersebut. Beberapa anak tidak bisa fokus atau duduk tenang selama belajar di kelas. Ada yang terus bergerak dan sering mengganggu temannya. Ada anak yang tidak mau mendengarkan instruksi guru bahkan beberapa anak menunjukkan sikap agresif baik berupa kata-kata maupun tindakan. Di situlah saya sempat kesal, kenapa tidak jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menghadapi kondisi semacam ini. Saya yakin ada hal-hal yang dalam batasan tertentu sebenarnya bisa dilakukan oleh orang-orang awam/non-profesional seperti saya dan para relawan guru untuk membantu anak-anak ini beradaptasi dengan kondisinya sendiri dan dengan lingkungannya. Minimal kami bisa menciptakan ruang aman dan atmosfer yang positif bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus tersebut. Saya mendengar tentang kursus PKP2I batch 20 dari salah satu teman yang lebih dulu mengikuti kursus ini. Dan saya harus akui, kursus ini tidak hanya memperluas wawasan tentang pendidikan inklusi, namun juga mengenalkan keterampilan-keterampilan yang saya butuhkan selama ini. Selama mengikuti kursus, saya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman yang berharga baik dari para tutor yang mumpuni maupun para peserta berbagai latar belakang diantaranya guru, personal tutor, dokter, para orangtua ABK, dan shadow teacher. Di sini saya belajar tentang prinsip-prinsip dasar tentang pendidikan inklusi sekaligus mengenali kondisi-kondisi khusus pada anak dan bagaimana merespon kondisi tersebut sesuai kapasitas saya. Penugasan yang diberikan menjadi sarana latihan merancang program atau kegiatan yang berwawasan inklusif yang memungkinkan anak-anak dengan kebutuhan khusus terakomodir dan terdukung proses belajar dan beradaptasinya. Saya yakin pengetahuan dan keterampilan ini tidak hanya dibutuhkan di ruang-ruang kelas atau sekolah, namun di lingkungan lain termasuk dalam situasi kedaruratan seperti kem pengungsi, di mana selalu bisa ditemukan anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Ada banyak hal yang bisa saya lakukan secara berbeda dalam interaksi dengan anak-anak pengungsi terutama mereka yang berkebutuhan khusus. Ada kepekaan lebih yang dibutuhkan dalam merancang program dan memastikan tersedianya dukungan sosial yang semakin mendekatkan setiap anak, di mana pun, pada hak-haknya untuk tumbuh dan berkembang sesuai keunikannya."
Husnul Khatimah
Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani
"Sebagai Ketua Yayasan Cahaya Keluarga Madani, saya, Husnul Khatimah, merasa sangat beruntung telah berpartisipasi dalam program pelatihan yang diselenggarakan oleh CAE. Kesempatan untuk belajar dan memperbaharui pengetahuan ini sangat berharga, terutama dalam konteks mendukung tumbuh kembang dan pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. Saya merasa sangat puas dengan kualitas pembelajaran yang disajikan. Para narasumber yang berbagi pengetahuan mereka tidak hanya kompeten, tetapi juga sangat hangat dan membuka ruang diskusi yang menginspirasi. Hal ini sangat penting bagi kami, masyarakat daerah yang jauh dari pusat sumber. Saya mempercayai dan mendukung visi dan misi CAE dalam menyediakan program-program dengan modul berkualitas di bidang pendidikan khusus dan pelatihan bersertifikat dengan standar yang diakui secara internasional. Saya melihat ini sebagai langkah penting dalam mendukung gerakan pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus agar memiliki kesempatan dalam mencapai potensi dirinya yang optimal."
Tribuana Tungga Dewi (Tantri)
Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila | Play Therapist | Academic & Family Coach
"Pengalaman Mengikuti Storyplay Level 2 Setelah mengikuti storyplay level 1 saya tak sabar menunggu level 2 dimulai. Senang sekali akhirnya setelah dua tahun kelas level 2 dimulai. Mengikuti storyplay level 2, sangat membantu profesi saya sebagai dosen ilmu komunikasi, play therapist, dan academic & family coach. Storyplay level 2 memungkinkan saya membantu klien play therapy untuk memanfaatkan potensi-potensi dirinya, yang mungkin belum dikenali. Sementara untuk klien coaching, storyplay memudahkan proses coachee menemukan solusi dari tantangan dalam mencapai tujuan belajarnya. Ternyata lebih gampang menemukan solusi saat memadukan visualisasi dan bercerita. Semuanya jadi lebih nyata. Ini testimoni coachee academic yang pernah saya dampingi setelah saya ajak melakukan teknik abc drawing. Saya baru menyadari kalau safe place saya sederhana sekali. Ini testimoni yang disampaikan klien lainnya setelah berbagi tentang garden of happiness yang dibuatnya dalam salah satu sesi. Teknik abc drawing dan garden of happiness sudah dipelajari di storyplay level 1. Tapi bagaimana memanfaatkan kedua teknik ini dengan lebih mendalam dan sesuai dengan kebutuhan klien hanya bisa diperoleh setelah mengikuti storyplay level 2. Tribuana Tungga Dewi (Tantri) - Batch 1 Storyplay Level 1 & 2 - Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Pancasila. - ?Play Therapist. - ?Academic & Family Coach"